Ada sesuatu yang perlahan-lahan berubah dalam wajah pendidikan kita.
Guru yang seharusnya sibuk memikirkan bagaimana seorang anak memahami pelajaran, menemukan bakatnya, membangun karakter, dan memiliki keberanian untuk bermimpi, kini tidak jarang justru lebih banyak menghabiskan waktu di depan tumpukan administrasi.
Bukan karena guru tidak lagi mencintai dunia pendidikan.
Bukan pula karena guru tidak ingin mencerdaskan anak bangsa.
Tetapi karena mereka juga manusia yang harus menyelamatkan dapur, membayar kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan keluarga, dan bertahan di tengah tuntutan kehidupan yang semakin mahal.
Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih besar daripada sekadar "guru malas mengajar".
Ketika Dapur Memanggil, Idealisme Bisa Terdesak
Kita sering berbicara tentang marwah profesi pendidik.
Guru disebut sebagai sosok yang digugu dan ditiru. Guru ditempatkan sebagai salah satu pilar penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Namun kita terkadang lupa bahwa di balik sosok yang berdiri di depan kelas itu ada manusia yang juga membutuhkan kehidupan yang layak.
Guru memiliki keluarga.
Guru memiliki kebutuhan.
Guru memiliki persoalan ekonomi.
Dan ketika kesejahteraan belum sebanding dengan tuntutan profesinya, sangat manusiawi jika perhatian seorang guru akhirnya terbagi.
Di satu sisi ada panggilan hati untuk mendidik.
Di sisi lain ada kebutuhan untuk bertahan hidup.
Bagaimana mungkin kita menuntut seorang guru memberikan seluruh jiwa dan pikirannya untuk mendidik, jika pikirannya sendiri sedang sibuk memikirkan bagaimana dapurnya tetap mengepul?
Pertanyaan ini mungkin terdengar keras.
Tetapi justru karena itulah pertanyaan ini harus dibicarakan.
Guru Jangan Sampai Berubah Menjadi Pegawai Administrasi
Administrasi tentu penting.
Perencanaan pembelajaran penting.
Evaluasi penting.
Pelaporan penting.
Dokumentasi penting.
Tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan substansinya hanya karena administrasi menjadi tujuan.
Ada bahaya ketika keberhasilan seorang guru lebih mudah diukur dari seberapa lengkap berkas yang dikumpulkannya daripada seberapa banyak perubahan yang terjadi pada anak didiknya.
Guru akhirnya belajar untuk memenuhi dokumen.
Bukan karena mereka tidak peduli kepada murid, tetapi karena sistem mengharuskan mereka demikian.
Laporan harus ada.
Format harus sesuai.
Data harus diperbarui.
Dokumen harus dilengkapi.
Bukti harus tersedia.
Dan pada akhirnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca perkembangan peserta didik, berdiskusi dengan mereka, menyusun metode pembelajaran kreatif, atau sekadar mendengarkan persoalan seorang anak, habis untuk mengejar administrasi.
Jangan sampai kita memiliki administrasi pendidikan yang sangat rapi, tetapi kehilangan pendidikan yang sebenarnya.
Sebab pendidikan bukan sekadar dokumen.
Pendidikan adalah manusia.
Marwah Guru Tidak Terletak pada Banyaknya Berkas
Marwah seorang guru tidak seharusnya diukur dari tebalnya map administrasi.
Marwah guru terletak pada perubahan yang ia tinggalkan dalam diri murid-muridnya.
Ada murid yang dahulu tidak percaya diri, lalu berani berdiri di depan kelas karena gurunya.
Ada anak yang hampir menyerah sekolah, tetapi bertahan karena seorang guru pernah berkata, "Kamu bisa."
Ada anak yang tidak tahu ingin menjadi apa, kemudian menemukan cita-citanya karena seorang guru melihat potensi yang bahkan tidak ia sadari.
Ada anak yang berasal dari keluarga sederhana, tetapi berani bermimpi besar karena gurunya tidak pernah mengatakan bahwa keadaan ekonominya adalah batas masa depannya.
Di situlah marwah seorang pendidik.
Bukan pada tanda tangan.
Bukan pada jumlah laporan.
Bukan pada banyaknya dokumen.
Tetapi pada kehidupan manusia yang berubah karena kehadirannya.
Kita Tidak Boleh Menyalahkan Guru Karena Ingin Hidup Layak
Ada kecenderungan dalam masyarakat untuk menuntut guru memiliki idealisme tanpa batas.
Guru harus ikhlas.
Guru harus sabar.
Guru harus menjadi teladan.
Guru harus mengabdi.
Guru harus mencerdaskan bangsa.
Semua itu benar.
Tetapi ada satu hal yang juga harus benar:
guru berhak hidup layak.
Keikhlasan bukan berarti kemiskinan.
Pengabdian bukan berarti mengabaikan kesejahteraan.
Profesionalisme bukan berarti seorang guru harus rela mengorbankan kehidupan keluarganya tanpa batas.
Justru negara yang menghargai pendidikan seharusnya memahami bahwa menjaga kesejahteraan guru merupakan bagian dari menjaga kualitas pendidikan.
Guru yang kehidupannya lebih tenang memiliki ruang lebih besar untuk berpikir.
Guru yang tidak terus-menerus dihantui persoalan ekonomi memiliki energi lebih besar untuk mendidik.
Guru yang dihargai secara profesional akan lebih mudah menjaga kehormatan profesinya.
Jangan Paksa Guru Memilih antara Murid dan Dapur
Persoalan paling mendasar bukanlah apakah guru harus mengajar atau mengurus administrasi.
Persoalannya adalah mengapa sistem membuat guru merasa harus memilih?
Mengapa pekerjaan administratif yang seharusnya membantu pendidikan justru berpotensi mengambil porsi besar dari waktu guru?
Mengapa ukuran keberhasilan pendidikan terkadang lebih mudah terlihat dari laporan daripada perubahan perilaku dan kemampuan peserta didik?
Dan mengapa seorang guru yang menghabiskan waktunya mendidik anak dengan sungguh-sungguh terkadang justru dianggap kurang bekerja hanya karena dokumennya tidak sebanyak orang lain?
Kita perlu mengembalikan proporsi.
Administrasi harus menjadi alat.
Bukan tujuan.
Teknologi seharusnya membantu guru.
Bukan menambah beban guru.
Kebijakan seharusnya memberikan ruang bagi guru untuk mendidik.
Bukan menjadikan guru sebagai operator yang terus-menerus mengejar data dan laporan.
Mengembalikan Guru kepada Jantung Pendidikan
Sudah waktunya kita mengembalikan guru kepada jantung profesinya.
Guru harus memiliki waktu untuk membaca.
Waktu untuk belajar.
Waktu untuk berdiskusi.
Waktu untuk mengenali karakter murid.
Waktu untuk membuat pembelajaran yang menarik.
Waktu untuk memperbaiki dirinya sendiri.
Dan yang paling penting, waktu untuk hadir sebagai manusia bagi manusia lain.
Sebab seorang anak tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu menjelaskan rumus matematika.
Ia membutuhkan orang dewasa yang percaya kepadanya.
Tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu menjelaskan sejarah.
Ia membutuhkan seseorang yang membantu memahami siapa dirinya.
Tidak hanya membutuhkan nilai yang tinggi.
Ia membutuhkan karakter, keberanian, tanggung jawab, empati, dan kemampuan menghadapi kehidupan.
Itulah pekerjaan besar seorang pendidik.
Menyelamatkan Marwah Pendidikan
Kalau kita benar-benar ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, maka yang harus diselamatkan bukan hanya angka-angka pendidikan.
Yang harus diselamatkan adalah marwah pendidikan itu sendiri.
Dan untuk menyelamatkan pendidikan, kita harus menjaga orang-orang yang berada di garis terdepan pendidikan.
Guru.
Jangan biarkan guru kehilangan idealismenya karena persoalan perut.
Jangan biarkan guru kehilangan waktunya karena administrasi yang berlebihan.
Jangan biarkan profesi mulia ini berubah menjadi sekadar pekerjaan untuk memenuhi target dan laporan.
Kita harus menciptakan sistem di mana guru dapat bekerja secara profesional, mendapatkan penghargaan yang layak, memiliki kesejahteraan yang manusiawi, dan tetap mempunyai ruang untuk menjalankan panggilan moralnya sebagai pendidik.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki gedung sekolah yang megah.
Bukan hanya bangsa yang memiliki kurikulum yang terus berganti.
Bukan pula bangsa yang memiliki sistem administrasi pendidikan yang sempurna.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga orang-orang yang setiap hari menyalakan cahaya pengetahuan di kepala dan hati anak-anaknya.
Dan guru adalah salah satu dari mereka.
Maka jangan hanya bertanya:
"Sudah berapa banyak administrasi yang diselesaikan guru?"
Mari kita juga bertanya:
"Sudah berapa banyak kehidupan yang berubah karena seorang guru?"
Karena mungkin, di situlah ukuran sesungguhnya dari marwah seorang pendidik.
